BUDAYA MENULIS DI KALANGAN GURU,CERMIN SEBUAH KEPRIHATINAN

Oleh Untung Sutikno*)

 

Tanggal 8 September adalah Hari Aksara, hari yang mestinya identik dengan aktivitas membaca dan menulis. Berkaitan dengan peringatan hari aksara tersebut, saya ingin mencurahkan uneg-uneg yang membuat saya merasa prihatin dengan kompetensi guru saat ini. Kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang yang  kemudian menjadikannya unggul dalam bidang tertentu dan sangat siap untuk bersaing (Hernowo, 2005:279). Kompetensi yang saya soroti dalam tulisan ini adalah kompetensi menulis yang belum menjadi budaya di kalangan guru. Bahwa kompetensi menulis di kalangan guru sampai saat ini masih sangat memprihatinkan. Tabrani Yunis – Peminat masalah sosial dan Pendidikan,/Director Center for Community Development and Education (CCDE)-mengkritik para guru, bahwa budaya menulis di kalangan guru masih sangat rendah.
Lagi

Kumpulan Puisi dari Novel AYAT-AYAT CINTA karya : Habiburrahman El Shirazy

  

Ayat-ayat Cinta terpilih sebagai The Most Faforite book

Suatu saat ketika aku sedang jalan-jalan di sebuah mall aku sempatkan mampir ke toko Buku. Iseng-iseng aku pingin mencari buku bacaan ringan atau  buku-buku teknik komputer. Tapi ketika aku melihat di tempat pajangan buku baru, aku langsung tertarik pada Novel Ayat-Ayat Cinta. Aku langsung baca omentar tentang buku ini pada sampul bagian belakang. Ternyata buku ini terpilih sebagai The Most Faforite book, berbeda selisih 4 suara dengan Harry Potter. Tanpa pikir panjang aku langsung beli buku ini.

Malam hari aku mulai membaca lembar demi lembar. dan anehnya, aku merasa seperti kecanduan, gak mau pisah dengan ayat-ayat cinta ini dan membaca sampai selesai dalam satu malam.

Wuihhhh.., cerita yang Kang Abik buat ini sungguh menyentuh hati, sampai-sampai aku berkali-kali tanpa sadar meneteskan air mata . Hatiku gerimis membaca Ayat-ayat Cinta. Akhir ceritnya juga sangat mengharukan, husnul khotimah.

Kang Abik yang terhormat dan yang aku kagumi. Setelah membaca novel Ayat-ayat Cinta, aku sangat terkesan, padahal aku bukan orang yang hobi membaca novel. Maka sebagai bentuk kekagumanku pada Kang Abik, aku sadur puisi-puisi dalam Ayat-ayat cinta dengan sedikit perubahan (aku beri judul sendiri, karena puisi aslinya tidak berjudul, semoga tidak mengurangi makna dari isi puisi tersebut. Maaf ya Kang Abik).

 

 

 

Aku bersujud

 

ya Allah

kekalkan cinta kami di dunia dan akhirat

ya Allah

masukkan kami ke dalam surga firdaus-Mu

agar kami dapat terus bercinta selama-lamanya

ya Alah

berikan sentuhan cinta-Mu  yang agung

tiada kuasa aku berbuat

kecuali bersujud kepada-Mu

Illahi, setiap  kali bila kurenungkan kemurahan-Mu

yang begitu sederhana mendalam

akupun tergugu

dan membulatkan sembahku pada-Mu

 
Lagi

pasrah

Hampir tak ada beda
Antara pasrah dan putus asa
Keduanya hanya bisa dirasa
Namun tak bisa diraba
Kepasrahan adalah penyerahan
Setelah terkumpul semua usaha
Keputusasaan adalah penyerahan
Setelah semua usaha dianggap sia-sia

%d blogger menyukai ini: