STRATEGI PEMBELAJARAN ESTAFET JAKARTA

ESTAFET JAwab KARtu perTAnyaan

Creative By: UNTUNG SUTIKNO, S.Pd.

Guru SDN Rungkang 02 Kecamatan Losari Kabupaten Brebes

2008

 

Pengantar

Belajar merupakan upaya membangun makna/pengertian/pemahaman terhadap pengalaman dan informasi yang dilakukan oleh si pembelajar, yang disaring melalui persepsi, pikiran dan perasaan. Sedangkan mengajar merupakan upaya menciptakan suasana yang mengembangkan inisiatif dan tanggung jawab belajar si pembelajar ke arah belajar seumur hidup.

Beberapa pernyataan tentang proses belajar mengajar yang dijalankan guru dewasa ini :

” … pesan yang tertangkap oleh pembelajar dalam pengalaman belajar-mengajar sangat tergantung pada bentuk kegiatan belajar yang dihayatinya” (Cf. Brophy dan Alleman, 1991; Gagne, 1997; Gagne dan Glaser, 1987, dalam Raka Joni, 1993).

“Pembaharuan dalam bidang pendidikan harus dimulai dari ‘bagaimana anak belajar’ dan ‘bagaimana cara guru mengajar’, bukan dari ketentuan-ketentuan hasil” (Brooks, 1999, hal.3 – 4)

” Di Indonesia, kemampuan cara mengajar di depan kelas inilah yang masih kurang dimiliki guru-guru. Padahal materi pelajaran dalam kurikulum yang dipelajari itu di mana-mana sama (J. Drost. Kompas: 4 Juni 2002)

 

Strategi pembelajaran estafet jakarta (jawab kartu pertanyaan) menggunakan pendekatan Pakem ( Pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan). Strategi ini dapat diterapkan oleh guru baik di tingkat sekolah dasar maupun di tingkat menengah. Strategi estafet jakarta saya ciptakan untuk memberi kontribusi terhadap upaya melakukan pembaharuan proses belajar mengajar sebagaimana pernyataan-pernyataan di atas.

 

LANGKAH-LANGKAH ESTAFET JAKARTA

 

KEGIATAN AWAL

  1. Sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, guru menyiapkan kartu bernomor sejumlah siswa untuk pengelompokkan siswa, misal (36 anak)
  2. Guru menyajikan materi atau bacaan.
  3. Setiap siswa diberi kartu/ kertas kosong.
  4. Setiap siswa ditugasi menuliskan sebuah pertanyaan pada kartu/ kertas kosong. Siswa diwajibkan mengerti jawaban / kunci jawaban dari pertanyaan yang dibuatnya.
  5. Setiap siswa diberi sebuah kartu bernomor yang telah disiapkan (seperti di atas).
  6. Selanjutnya seluruh siswa menuju ke halaman sekolah dan berkumpul membentuk kelompok sesuai kartu kelompok yang diterimanya.

 

BABAK PERTAMA

Berdasarkan kelompok abjad (kelompok A, B. C. D. E dan F). Kegiatan dilakukan di luar kelas secara serentak semua kelompok.

  1. Siswa berkelompok sesuai abjad pada kartu yang ia terima.
  2. Setiap siswa secara estafet, diawali dari siswa yang bernomor kartu 1 membacakan pertanyaan yang dibuatnya, siswa lain dalam kelompok menjawab secara estafet diawali dari nomor kartu 2, 3, 4, 5 dan 6.
  3. Setelah semua menjawab, siswa penanya menyampaikan jawaban yang benar.
  4. Dilanjutkan siswa dengan nomor kartu 2 bertanya, siswa lainnya dalam satu kelompok menjawab secara estafet diawali dari nomor 3, 4, 5, 6, dan 1.
  5. Selanjutnya siswa dengan nomor kartu 3 bertanya, siswa lainnya dalam satu kelompok menjawab secara estafet diawali dari nomor 4, 5, 6, 1, 2 dan 3.
  6. Setelah semua menjawab, siswa penanya menyampaikan jawaban yang benar
    1. Setelah semua menjawab, siswa penanya menyampaikan jawaban yang benar. Demikian seterusnya sampai semua siswa menjadi penanya.

 

BABAK KEDUA

 

Berdasarkan Kelompok nomor kartu (kelompok 1, 2, 3, 4, 5 dan 6). Kegiatan ini dilakukan utnuk pemerataan jangkauan siswa terhadap kegiatan menJAwab KARtu perTAnyaan yang dibuat oleh siswa dari kelompok lain.

  1. Siswa berkelompok sesuai nomor pada kartu yang ia terima.
  2. Setiap siswa secara estafet diawali dari siswa huruf A membacakan pertanyaan yang dibuatnya, siswa B, C, D, E dan F dalam kelompok menjawab secara estafet/ berurutan. Setelah semua menjawab, siswa penanya menyampaikan jawaban yang benar.
  3. Dilanjutkan siswa huruf B bertanya, siswa C, D, E, F dan A menjawab secara estafet. Setelah semua menjawab, siswa penanya menyampaikan jawaban yang benar.
  4. Dilanjutkan siswa huruf C bertanya, siswa D, E, F, A dan B menjawab secara estafet. Setelah semua menjawab, siswa penanya menyampaikan jawaban yang benar. Demikian seterusnya sampai semua siswa menjadi penanya.


KEGIATAN AKHIR :

Di akhir kegiatan siswa diminta menuliskan semua pertanyaan dan jawaban yang diingatnya sebanyak mungkin secara berpasang-pasangan.

Salah seorang siswa menjadi penanya, siswa lainnya bergiliran menjawab. Selanjutnya guru mengevaluasi kegiatan siswa dengan memberi beberapa pertanyaan sesuai dengan topik pembahasannya.

 

Keunggulan strategi estafet jakarta:

  1. Strategi ini sangat efektif untuk melatih keberanian siswa dalam bertanya dan mengemukakan pendapatnya.
  2. Melatih kerjasama siswa dalam kelompok
  3. Melatih sportifitas siswa
  4. Siswa merasa senang dalam belajar. Lihat pernyataan siswa tentang etafet jakarta

Kelemahan strategi estafet jakarta:

  1. Pertanyaaan yang dibuat siswa sering homogen/ sama sehingga cakupan materi yang dikuasai siswa kurang berkembang.
  2. Siswa yang kurang mampu dalam membuat pertanyaan akan membingungkan siswa lainnya karena pertanyaan yang dibuatnya tidak jelas/ tidak terfokus pada permasalahan.
  3. Karena siswa diwajibkan memamahami jawaban dari pertanyaannya sendiri , maka siswa yang belum mendapat giliran bertanya lebih sering menghapalkan jawaban atas pertanyaan sendiri dari pada mendengarkan pertanyaan teman.

     

     

Catatan:

Strategi ini sudah beberapa kali diujicobakan pada saat pembelajaran, tetapi belum dilakukan penelitian terhadap strategi ini.

Tulisan ini saya persembahkan untuk seluruh rekan Guru . Semoga bermanfaat bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. Silakan dicoba.

Menulis itu Gampang atau Susah

Bagian ke-3

Bertemu Wartawan
Suatu ketika di sekolah tempatku mengajar datang seorang yang mengaku dirinya wartawan. Lebih dari itu, dia juga mengaku dirinya sebagai pimpinan redaksi Tabloid Retorika Rakyat. Dia menawarkan kepada sekolahku untuk berlangganan tabloid tersebut. Akupun memberanikan diri untuk menawarkan kepadanya tulisan atau artikelku agar dimuat di tabloid tersebut. Dia menyambut tawaranku dengan senang hati. Bahkan dia menjanjikan agar memberikan honor sekedarnya apabila tulisanku layak dan dimuat dalam tabloid Retorika Rakyat.
Segeralah aku kumpulkan segenap energi yang aku miliki untuk menulis. Aku mulai dengan memilih tema yang sekiranya dapat aku tulis dengan mudah. Bagaimanapun bagusnya tema kalau aku sendiri tidak tahu detail pembahasannya pasti aku akan mengalami kesulitan yang besar. Kemudian aku mencari dan memebaca referensi yang menunjang untuk tulisan yang akan aku buat.
Aku mencoba menulis dengan semangat membara. Kata demi kata aku rangkai menjadi kalimat, Kalimat demi kalimat aku rangkai menjadi paragraf. Paragraf demi paragraf aku rangkai menjadi kesatuan tulisan dengan judul : Budaya Menulis di Kalangan Guru, Cermin sebuah Keprihatinan.
Esok harinya, aku baca tulisanku itu. Tidak lupa aku melakukan editing tulisan untuk memastikan agar tidak ada tulisan yang salah, baik ejaan maupun pemilihan katanya. Aku juga melakukan perbaikan kalimat yang dirasa tidak efektif.
Setelah dirasa baik, aku mulai membuat surat pengantar. Untuk membuat surat pengantar yang baik, aku mencoba saran yang dikemukakan oleh Agus M. Irkham dalam buku Prigel Menulis Artikel. Sekali lagi, aku menelisik tulisanku dan memastikan bahwa tulisanku tersebut benar-benar layak untuk dimuat di media massa. Kemudian aku mencetak dan mengirim artikel atau tulisanku itu melalui kantor pos. Tidak lupa aku sisipkan biodata dan pas foto, barangkali ada manfaatnya untuk membuat piagam atau sertfikat jika tulisanku dimuat. Maklum, aku seorang guru yang membutuhkan pengakuan dalam bentuk piagam atau sertifikat untuk memperoleh angka kredit dari kegiatan pengembangan pprofesi.
Artikel pertamaku langsung dimuat di media cetak
Aku benar-benar terkejut ketika pada bu;an berikutnya Mas Kutoro Wisnu Subroto – pimred dan wartawan tabloid Retorika Rakyat – mengirimi aku SMS. Dia mengabarkan kepadaku bahwa tulisanku dimuat dalam tabloid tersebut pada edisi ketiga bulan September-Oktober 2008. Dia juga menyatakan bahwa tulisanku berkualitas dan banyak yang memuji. Aku benar-benar merasa sangat bahagia, karena ini adalah pertama kali aku mengirim artikel dan langsung dimuat di media massa.
Aku bersyukur atas apa yang telah aku lakukan dan membuahkan hasil yang memuaskan. Aku teringat akan kata-kata yang banyak disampaikan oleh para penulis terkenal. Pada awal-awal mereka menulis mereka sering mengalami penolakan oleh media massa dengan berbagai alasan. Namun hal itu tidak terjadi padaku. Tulisan pertamaku langsung dimuat di media massa. Tapi aku tidak boleh sombong. Menurut aku, tulisanku langsung dimuat di media massa bukan karena tulisanku bermutu tinggi. Tetapi lebih disebabkan oleh kondisi media massa tersebut yang baru berdiri dan belum banyak memiliki penulis/koresponden yang mengenal dan mengirim tulisannya. Jadi daripada tidak ada tulisan yang masuk ke redaksi, tulisanku pun dimuat. Apalagi media tersebut berada di daerah dan belum terkenal.
Pada tanggal 7 September 2008 artikel tersebut aku kirim via email (ini hanya coba-coba lho…) ke situs Pendidikan Network. Ternyata tulisanku itu dipublikasikan di sana. Dan yang lebih mengejutkan lagi ternyata tulisanku juga ikut parkir di situs PGRI Riau dan situs SDN Sengon 02 Brebes. Sungguh aku merasa puas…. (selesai).

Menulis itu Gampang atau Susah?

Bagian ke-2Mengetik
Mulailah dari menulis buku harian
Suatu hari aku bertemu dengan seorang penulis yang cukup piawai. Dia adalah Hernowo. Kata Hernowo melalui “Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah”, jika kita ingin menjadi penulis buku, mulailah dari menulis buku harian. Jangan hiraukan tentang tema. Jangan terkekang oleh aturan-aturan baku tentang menulis. Pokoknya, tulislah apa saja yang terlintas dalam pikiran kita. Tulislah apa saja yang kita rasakan, yang kita inginkan. Jadi sekali lagi jangan terkekang oleh aturan penulisan.
Melalui tulisan ini aku mencoba menulis apa saja yang ada dalam pikiranku. Aku mencona memencet tombol-tombol keyboard komputerku semauku sendiri. Kali ini aku mencoba memutahkan semua isi pikiranku selagi aku berada di hadapan layar komputer.
Aku tak perlu memikirkan apakah tulisanku bermutu atau tidak. Aku tak perlu berharap apakah tulisanku dapat memuaskan orang lain yang membacanya atau tidak. Inilah cara yang diajarkah oleh Hernowo, seperti yang dikatankan kepadaku ketika baru pertama kali aku jumpa dia. Dia mengatakan kepadaku, kalau ingin menulis, tulislah segala sesuatu yang terlintas dalam pikiran kita. Tulislah dalam sebuah buku harian atau di komputer. Tulislah di dalam handpone atau di manapun tempat menulis. Kalu perlu bawalah sebuah buku catatan kecil untuk menulis apa saja ide yang meilntasi pikiran kita.

Menulis yang mengalir
Hernowo juga mengatakan bahwa agar bisa menulis yang “mengalir” katanya ada syaratnya. Yang pertama, kita perlu spontan dalam mengalirkan kata-kata. Maksudnya, kita kita tidak boleh memiliki keraguan di dalam mengalirkan kata-kata ke dalam buku harian. Pokoknya tugas kita yang pertama hanya mengalirkan kata-kata. Memuntahkan semua isi pikiran. Yang kedua, dia mengatakana kepadaku, bila akan menulis, kita perlu dalam keadaan sangat bebas. Maksudnya, kita tidak perlu memperhatikan orang lain dalam menulis, tumpahkan saja semua yang kita pikirkan, apaupun hasilnya. Dan yang ketiga dia juga berpesan, agar aku selalu latihan menulis dalam catatan harian, setiap hari, sesering mungkin.
Aku bertanya, bila kita ingin menulis dalam catatan harian tetapi tidak punya ide bagaimana? Ya, bersabarlah, jangan memaksakan diri, kita harus ingat, kalau menulis harus bebas dan spontan. Ya… kalau memang mau memaksakan diri ya, silakan saja. Tulis saja kata-kata macet yang banyak. Pokoknya tulis macet berkali kali, berderet-deret, berulang ulang.
Aku jadi heran, kenapa mesti menulis kata-kata macet? Mungkin maksudnya adalah supaya tidak macet dalam menulis. Jadi, yang penting setiap hari kita menulis. Walau apapun yang kita tulis. Karena dalam menulis kita harus punya kebebasan. Dalam kebebasan itu, tulisan akan mengalir tanpa mampu terbendung oleh pena kita atau tombol-tombol keyboard komputer.
Menjemput ide
Kita jangan berharap akan datangnya ide atau gagasan luar biasa untuk menulis. Kita tak perlu menanti datangnya ilham bila akan menulis. Kita juga tak perlu meneliti diri kita sendiri apakah lita berbakat menulis atau tidak. Sebab, kata Solihin – penasehatku saat aku berkunjung ke PAKGURUONLINE- menulis bukanlah bakat, tetapi kompetensi. Ya… kompetensi. Jadi, menulis dapat dilatih. Kompetensi adalah keterampilan, keterampian itu bisa dilatih. Untuk melatih kompetensi kita perlu motivasi, dan keseriusan, serta merelakan waktunya untuk menulis. Untuk itu kita perlu terus-menerus berlatih menulis. kita harus menjeput bola, eh… menjemput ide dan mengumpulkan ide, bukan menanti ide dan gagasan datang baru kita menulis.
Banyak-banyaklah membaca
Kita semua harus belajar menulis, bahkan orang buta sekalipun pasti bisa menulis. Solihin memberi contoh kepadaku tentang orang buta yang bisa menulis, dia adalah John Milton, yang dalam keadaan buta, bisa menjadi penyair kelas dunia. Membaca ceritanya, tentu aku sangat kaget. Bagaimana mungkin, orang buta menjadi penyair? Namun ketika aku menanyakan hal itu, dia tidak menjawab secara langsung. Cari saja sendiri jawabannya, banyak-banyaklah membaca, nanti kamu akan tahu. Begitu katanya.
Jangan takut mencoba
Saat itu aku merenung, mengapa dalam keadaan yang terbatas mereka bisa hidup tak terbatas oleh kecacatan tubuhnya? Cacat bukanlah batas untuk kita melakukan aktivitas. Memang benar, kalau kita banyak membaca, kita akan tahu banyak hal. Kita akan tahu batas-batas yang melampaui batas kemampuan kita. Akupun terdorong untuk selalu membaca, membaca, dan membaca. Aku juga selalu bertanya, bertanya, dan bertanya. Aku juga selalu mencoba, mencoba dan mencoba. Aku juga selalu …. (bersambung lagi, ah…)

Menulis itu Gampang atau Susah?

aku_penulisBagian ke-1

Benarkah menulis itu gampang?
Arswendo pernah menulis buku “Mengarang itu Gampang” — dalam kaitannya dengan penulisan buku, cerpen, dan sejenisnya. Tetapi bagi banyak orang termasuk aku, menulis adalah pekerjan yang sangat sulit. Apalagi jika yang ditulis adalah sesuatu yang harus mengikuti aturan, sesuatu yang harus ilmiah, sesuatu yang harus baku, sesuatu yang harus memberi pencerahan, sesuatu yang harus indah, sesuatu yang harus update, sesuatu yang harus berguna dan sesuatu yang harus lainnya. Pokoknya ketika aku akan menulis aku sering merasakan kesulitan. Setidaknya itulah yang aku sampai saat ini.

Aku mulai menulis
Beberapa bulan yang lalu, tepanya pada bulan April 2008 mulai menggunakan komputer pribadiku untuk akvitas browsing di internet. Aku menggunakan HP Sony Ericson K 310i milikku yang sebagai modemnya menggunakan yang dikoneksikan ke komputer menggunakan infrared. Maklumlah… aku tinggal di daerah pedsaan yang nggak ada jaringan telepon. Beruntung di dekat desaku ada menara telepon sehingga sinyalnya cukup kuat. Melalui bantuan seorang teman yang tahu tentang programing komputer, jadilah komputerku sebuah internet. Aku mulai senang melakukan browsing, download dan kopi paste beberapa artikel, opini, makalah dan info-info penting lainnya. Aku mulai mengenal makhluk yang bernama internet. Aku mulai gandrung dan jatuh cinta kepada internet.

Melalui internet aku mengenal seorang yang memotivasi aku untuk menulis. Dia adalah Solihin. melalui tulisannya dia banyak memberikan tips dalam menulis. Aku pun mulai merasakan getaran yang kuat dalam dadaku. Getaran itu bernama ”akau akan menulis”. Tetapi, apa yang akan kutulis, aku tidak tahu. Yang penting aku ingin menulis. Karena kata Solihin menulis itu gampang.
Kemudian aku mencoba untuk menulis. Namun aku kembali menjumpai makhluk yang bernama “menulis itu tidak gampang”. Jadi, omong kosong kalau menulis itu gampang. Aku nggak setuju dengan unghkapan bahwa menulis itu gampang. Aku hanya tahu bahwa setiap kali aku ingin menulis, aku selalu bingung memulainya. Harus dari mana aku memulai menulis. (Bersambung)

Prita… Oh Prita…

Bagai tersambar petir… Kepalaku seakan mau pecah. Bagaimana tidak, aku yang baru beberapa hari ini membuat blog untuk mempublikasikan ide-ide dan gagasan saya melalu postingan di wordpress ini, tiba-tiba mendengar dan membaca tentang kasus seorang ibu rumah tangga yang dijebloskan ke dalam penjara. Hal yang membuatku sangat kaget adalah, Prita Mulyasari di penjara hanya karena keluhan-keluhannya tentang pelayanan di sebuah rumah sakit terhadap dirinya ketika dia menjadi pasien di sana. Dakwaan atas dirinya berupa pencemaran nama baik dan pelanggaran Undang-undang Informasi dan Trasnsaksi Elektronik (UU ITE).
AKu jadi merasa sedikit ngeri membayangkan senadainya kasus itu menimpa diriku. Sebab, aku masih sangat buta dengan hukum yang berkaitan dengan kegiatan ngeblog dan email.
apa sebenarnya isi emai Prita itu sehingga ia dipenjara?

Inilah isi lengkap email Prita Mulyasari yang dimuat di surat pembaca detik pada Sabtu, 30/08/2008 11:17 WIB dengan judul “RS Omni Dapatkan Pasien dari Hasil Lab Fiktif” :

Jakarta – Jangan sampai kejadian saya ini akan menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.
Lagi

Previous Older Entries

pasrah

Hampir tak ada beda
Antara pasrah dan putus asa
Keduanya hanya bisa dirasa
Namun tak bisa diraba
Kepasrahan adalah penyerahan
Setelah terkumpul semua usaha
Keputusasaan adalah penyerahan
Setelah semua usaha dianggap sia-sia

%d blogger menyukai ini: