Menulis itu Gampang atau Susah?


Bagian ke-2Mengetik
Mulailah dari menulis buku harian
Suatu hari aku bertemu dengan seorang penulis yang cukup piawai. Dia adalah Hernowo. Kata Hernowo melalui “Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah”, jika kita ingin menjadi penulis buku, mulailah dari menulis buku harian. Jangan hiraukan tentang tema. Jangan terkekang oleh aturan-aturan baku tentang menulis. Pokoknya, tulislah apa saja yang terlintas dalam pikiran kita. Tulislah apa saja yang kita rasakan, yang kita inginkan. Jadi sekali lagi jangan terkekang oleh aturan penulisan.
Melalui tulisan ini aku mencoba menulis apa saja yang ada dalam pikiranku. Aku mencona memencet tombol-tombol keyboard komputerku semauku sendiri. Kali ini aku mencoba memutahkan semua isi pikiranku selagi aku berada di hadapan layar komputer.
Aku tak perlu memikirkan apakah tulisanku bermutu atau tidak. Aku tak perlu berharap apakah tulisanku dapat memuaskan orang lain yang membacanya atau tidak. Inilah cara yang diajarkah oleh Hernowo, seperti yang dikatankan kepadaku ketika baru pertama kali aku jumpa dia. Dia mengatakan kepadaku, kalau ingin menulis, tulislah segala sesuatu yang terlintas dalam pikiran kita. Tulislah dalam sebuah buku harian atau di komputer. Tulislah di dalam handpone atau di manapun tempat menulis. Kalu perlu bawalah sebuah buku catatan kecil untuk menulis apa saja ide yang meilntasi pikiran kita.

Menulis yang mengalir
Hernowo juga mengatakan bahwa agar bisa menulis yang “mengalir” katanya ada syaratnya. Yang pertama, kita perlu spontan dalam mengalirkan kata-kata. Maksudnya, kita kita tidak boleh memiliki keraguan di dalam mengalirkan kata-kata ke dalam buku harian. Pokoknya tugas kita yang pertama hanya mengalirkan kata-kata. Memuntahkan semua isi pikiran. Yang kedua, dia mengatakana kepadaku, bila akan menulis, kita perlu dalam keadaan sangat bebas. Maksudnya, kita tidak perlu memperhatikan orang lain dalam menulis, tumpahkan saja semua yang kita pikirkan, apaupun hasilnya. Dan yang ketiga dia juga berpesan, agar aku selalu latihan menulis dalam catatan harian, setiap hari, sesering mungkin.
Aku bertanya, bila kita ingin menulis dalam catatan harian tetapi tidak punya ide bagaimana? Ya, bersabarlah, jangan memaksakan diri, kita harus ingat, kalau menulis harus bebas dan spontan. Ya… kalau memang mau memaksakan diri ya, silakan saja. Tulis saja kata-kata macet yang banyak. Pokoknya tulis macet berkali kali, berderet-deret, berulang ulang.
Aku jadi heran, kenapa mesti menulis kata-kata macet? Mungkin maksudnya adalah supaya tidak macet dalam menulis. Jadi, yang penting setiap hari kita menulis. Walau apapun yang kita tulis. Karena dalam menulis kita harus punya kebebasan. Dalam kebebasan itu, tulisan akan mengalir tanpa mampu terbendung oleh pena kita atau tombol-tombol keyboard komputer.
Menjemput ide
Kita jangan berharap akan datangnya ide atau gagasan luar biasa untuk menulis. Kita tak perlu menanti datangnya ilham bila akan menulis. Kita juga tak perlu meneliti diri kita sendiri apakah lita berbakat menulis atau tidak. Sebab, kata Solihin – penasehatku saat aku berkunjung ke PAKGURUONLINE- menulis bukanlah bakat, tetapi kompetensi. Ya… kompetensi. Jadi, menulis dapat dilatih. Kompetensi adalah keterampilan, keterampian itu bisa dilatih. Untuk melatih kompetensi kita perlu motivasi, dan keseriusan, serta merelakan waktunya untuk menulis. Untuk itu kita perlu terus-menerus berlatih menulis. kita harus menjeput bola, eh… menjemput ide dan mengumpulkan ide, bukan menanti ide dan gagasan datang baru kita menulis.
Banyak-banyaklah membaca
Kita semua harus belajar menulis, bahkan orang buta sekalipun pasti bisa menulis. Solihin memberi contoh kepadaku tentang orang buta yang bisa menulis, dia adalah John Milton, yang dalam keadaan buta, bisa menjadi penyair kelas dunia. Membaca ceritanya, tentu aku sangat kaget. Bagaimana mungkin, orang buta menjadi penyair? Namun ketika aku menanyakan hal itu, dia tidak menjawab secara langsung. Cari saja sendiri jawabannya, banyak-banyaklah membaca, nanti kamu akan tahu. Begitu katanya.
Jangan takut mencoba
Saat itu aku merenung, mengapa dalam keadaan yang terbatas mereka bisa hidup tak terbatas oleh kecacatan tubuhnya? Cacat bukanlah batas untuk kita melakukan aktivitas. Memang benar, kalau kita banyak membaca, kita akan tahu banyak hal. Kita akan tahu batas-batas yang melampaui batas kemampuan kita. Akupun terdorong untuk selalu membaca, membaca, dan membaca. Aku juga selalu bertanya, bertanya, dan bertanya. Aku juga selalu mencoba, mencoba dan mencoba. Aku juga selalu …. (bersambung lagi, ah…)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

pasrah

Hampir tak ada beda
Antara pasrah dan putus asa
Keduanya hanya bisa dirasa
Namun tak bisa diraba
Kepasrahan adalah penyerahan
Setelah terkumpul semua usaha
Keputusasaan adalah penyerahan
Setelah semua usaha dianggap sia-sia

%d blogger menyukai ini: